Abyan Naufal Asyhar, Bella Firmansyah

 

Makna fiqh muamalah secara sederhana adalah hukum Islam tentang harta. Fiqh artinya hukum yang diambil dari Al-Quran, Sunnah dan Penjelasnya. Muamalah adalah kegiatan antar manusia dengan manusia lainnya. Dalam konteks ekonomi islam, fiqh muamalah didefinisikan sebagai hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan manusia dalam perkara harta, misalnya dalam persoalan jual beli, utang piutang, swa menyewa, kerjasama dagang, perserikatan dan lain sebagainya.

Dalam fiqh muamalah, dibutuhkan sebuah kontrak sebagai tanda jadi dilakukannya transaksi. Kontrak ini dikenal dengan istilah akad. Yaitu ikatan antara manusia berupa tindakan yang akan mengubah status harta. Harta dapat dikuasai melalui akad atau tanpa akad. Akad juga berarti mengikatkan dua ucapan atau yang menggantikan kedudukannya, yang darinya timbul konsekuensi syariah. Dua ucapan itu adalah ijab dan qabul .

Hal yang harus diperhatikan melakukan akad harus diperhatikan subjek, predikat dan objeknya. Subjek adalah pelaku akad. Pelaku akad haruslah memiliki dua kecakapan yaitu kecakapan mengemban kewajiban (baligh) dan kecakapan dalam bertindak.

Kemudian dalam hal tindakan perubahan status harta (predikat) ada tiga cara yaitu pertukaran harta, contohnya adalah jual beli, sewa menyewa, dan investasi. Yang kedua adalah pemberian harta seperti zakat, pajak, hibah, infaq, warisan, shadaqah dan lain sebagainya. Selanjutnya adalah penempatan harta contohnya adalah pinjam meminjam dan titip menitip.

Selanjutnya, hal yang lain menyangkut akad adalah keberadaan barang atau objek akad yang nantinya terkena implikasi akad serta hukum-hukumnya. Objek akad harus jelas keberadaannya dan kondisinya.

Dalam perubahan status harta, haruslah memenuhi asas-asas tertentu yang menjadi pembeda antara akad yang haq dan bathil. Kaidah lima asas tersebut adalah keberadaan (mawjuud), kebernilaian (jidaarah), Kesetaraan (musawaats), kejujuran (shadiiq) dan Kecakapan (Kafaa’ah). Ketika memenuhi seluruh asas ini dapat dikatakan akad tersebut menjadi sah.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali akad yang biasa terjadi dalam muamalah diantara manusia. Antara lain adalah akad yang sah dan tidak sah dilakukan. Akad-akad yang sah pastinya memenuhi kaidah lima asas perubahan status harta. Contohnya adalah akad jual beli, akad sewa menyewa, akad pinjam meminjam, dan akad investasi. Adapun akad-akad yang tidak sah atau rusak akadnya adalah akad yang tidak memenuhi kaidah lima asas tersebut. Yaitu akad bunga, maysir, gharar, tadlis, najasy, ta’alluq, ikrah, ma’dum, ikhtikar, risywah, dan akad yang objeknya haram baik zat ataupun cara memperolehnya.

Maka dari itu, dari penjelasan di atas bahwa kita sebagai umat muslim yang baik haruslah mengerti permasalahan ekonomi dengan cara lebih mendalami pelajaran mengenai fiqh muamalah. Dengan harapan semoga perekonomian bisa menjadi lebih baik kedepannya. Mari sembuhkan ekonomi dunia. Ekonom Rabbani, Bisa!

Referensi : Natadipurba, Chandra. 2016. Ekonomi Islam 101 Edisi 2. Bandung. PT. Mobidelta Indonesia

https://drive.google.com/file/d/1a5gN-MKsJV6Zy5jYEmIHZIOe05zlpMPl/view?usp=sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *