Hayya: The Power of Love 2 garapan sutradara muda Jastis Arimba, yang juga menyutradarai sekuel perdananya dulu. Proses syuting film ini melibatkan dua negara yaitu Indonesia dan Palestina. Mengambil tema kemanusiaan, film Hayya sedikit bercerita tentang kehidupan para relawan kemanusiaan di negeri Palestina.

Seperti yang telah dikatakan oleh sang produser, Helvy Tiana Rosa yang menyatakan salah satu tujuan dibuatnya film ini adalah untuk mendukung atas kemerdekaan Palestina. Kakak kandung dari penulis terkenal Asma Nadia ini pun juga menegaskan, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia mendukung sepenuhnya atas kemerdekaan Palestina. Dengan melalui film inilah dia berharap pesan itu dapat tersampaikan kepada masyarakat Indonesia.

Film Hayya: The Power Of Love 2 ini masih menceritakan tentang seorang jurnalis bernama Rahmat, yang hidupnya dipenuhi dengan perasaan bersalah dan dosa di masa lalunya. Untuk menghilangkan perasaan itu, Rahmat yang juga sedang memahami makna cinta dan keimanan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dalam perjalanan hijrahnya tersebut.

Rahmat kemudian memutuskan untuk menjadi relawan kemanusiaan di perbatasan kamp pengungsian. Saat bertugas menjadi relawan kemanusiaan dan jurnalis di daerah tersebut, dia bertemu sosok Hayya, gadis lugu yatim piatu korban konflik di Palestina itu. Hatinya begitu teriris melihat gadis kecil korban konfil tersebut. Dan dia memutuskan untuk menolong gadis itu dan membuat senyum kebagiaan pada gadis kecil itu.

Nyatanya kehadiran gadis kecil yang bernama Hayya itu, membawa banyak perubahan terhadap kehidupan Rahmat. Namun suatu ketika Rahmat harus kembali ke Indonesia karena harus menikah dengan Yasna. Kenyataan tersebut lantas membuat Hayya terluka dan begitu sedih, karena harus terpisah dengan Rahmat. Hubungan Rahmat dengan Hayya pun menjadi semakin kompleks.

Hayya tidak hanya mengandung pesan kemanusiaan, tapi juga persoalan cinta dan keimanan. Di sini terdapat banyak pengajaran yang dekat dengan kehidupan Islami. Disajikan secara sederhana tanpa terkesan menggurui. Terdapat sejumlah isu humanis lain yang diangkat, salah satunya tentang pesan moral Islami terkait LGBT bahkan cinta itu tidak harus memiliki dan jangan memaksakan kehendak yang akhirnya menimbulkan sifat terlalu posesif. Karena sifat terlalu posesif yang dimiliki oleh Rachmat membuatnya mengalami kecelakaan mobil setelah terjadi keributan dengan temannya yang selama ini membantunya, setelah Hayya di jemput oleh pihak kepolisian

Ada beberapa kejutan yang menanti penonton di ballik cerita film ini. Salah satunya boleh dibilang tidak masuk akal secara logika. Meskipun demikian adegan-adegan selanjutnya masih memiliki sinkronisasi antar cerita, sehingga film tetap menarik untuk disimak. Bahkan endingnya meski sudah bisa ditebak, namun ada momen yang tak terduga yang membuat penonton terhenyak. (Putri P)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *