Sambutan oleh Presidium Nasional FoSSEI 2017/2018 Darihan Mubarak menjadi pengantar dan satu dari cambukan penuh semangat perjuangan pada kegiatan Musyawarah nasional (MUNAS) FOSSEI XVI yang diselenggarakan pada 12-16 September 2018 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Gedung Ahmad Sanusi, Balai Pertemuan Umum UPI Bandung menjadi saksi sejarah bergeloranya semangat para pejuang Ekonomi Islam untuk melangitkan do’a dan membumikan kebenaran di Indonesia tercinta. MUNAS FoSSEI XVI yang dihadiri oleh delegasi setiap KSEI se-Indonesia ini hadir dengan berbagai ide dan gagasan untuk menjadikan FoSSEI lebih kuat dalam dakwahnya, berbagai evaluasi dan kritikan terhadap FoSSEI beberapa tahun terakhirpun mewarnai hari-hari yang menjadi penentu kinerja FoSSEI Nasional kedepannya. MUNAS menjadi wadah untuk loncatan besar kebaikan-kebaikan yang bisa diakomodir di masa mendatang, sehingga narasi besar pergerakan dakwak ekonomi Islam di era mendatang menjadi tantangan dan tugas bersama, termasuk dalam pemilihan Presidium Nasional FoSSEI 2018/2019.

Dengan terpilihnya Irsyad Al Ghifary (KSEI SES-C IPB), Gilang Fatihan (KSEI SEF UGM), Prayudi Ibrahim Nasution (KSEI KaSEI FEB Universitas Riau), Halwani (KSEI IsEF STEI SEBI) dan Muhammad Haqqi Hudan Maulana (KSEI CIES Universitas Brawijaya) menjadi gebrakan baru dari perjuangan dan pengorbanan yang semakin besar penentuan dan penyatuan arah gerak FoSSEI Nasional, tujuan besar “Pembumian Ajaran Islam dalam bidang Ekonomi” semakin menghujam tajam di hati pemuda-pemudi penerus negeri ini.

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya”, nasihat dengan tafsir mendalam dari Imam Syafi’I ini menjadi bukti dalam perjuangan ini bahwa yang menentukan kualitas diri bukanlah apa jabatan atau posisi yang kita tempati, tetapi apa yang sudah, sedang dan akan kita lakukan dan korbankan dalam meniti dakwah dan amanah indah ini. Optimalisasi aktualisasi diri dan pemikiran untuk berkontribusi sekarang dan ke depan menjadi penentu, apakah kita akan menjadi pemain dalam sejarah kebangkitan Islam dan peradabannya nan dirindukan itu, atau hanya menjadi penonton yang merasa cukup dengan diberi tanpa memberi, sementara memberi adalah sebuah kemuliaan dalam hidup seorang insan beriman, menjadi amal jama’i dan amal jariah saat ruh telah berpisah dengan jasad. Inilah yang disebut “Kerinduan Para Pejuang”. (Arika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *