Oleh: Tri Aji Pamungkas (Dudung Stheven) 
Governor FoSSEI Of Jabodetabek Region

Jakarta, 10 November 2017, Datangnya VOC ke wilayah Nusantara merupakan tonggak awal perubahan sistem ekonomi dan proses terkikisnya kedaulatan berekonomi di Nusantara. Keberhasilan ekspedisi para marsekal VOC membuahkan hasil yang sangat bagus di tengah kondisi politik pertikaian para kerajaan Nusantara saat itu.

Hal ini menyebabkan politik ekonomi dan taktik perang ekonomi VOC berjalan lancar dengan memberikan keuntungan lebih kepada para oknumnya yang menjadikan praktek jual-beli persaingan sempurna terkikis dengan praktik monopoli. Sistem ini yang menjadi cikal-bakal persekusi terhadap kedaulatan Nusantara dalam berekonomi yang menunjukkan pada sistem kapitalisme sistematis.

Dalam perjalanannya perjuangan membela tanah air dalam berekonomi sudah di praktikan para pelancong Nusantara, para Adipati memegang peran penting dalam menyadarkan masyarakat akan bahayanya pengaruh VOC dan sebagian Adipati terpengaruh pula oleh kemegahan yang di janjikan para penjajah. Catatan sejarah menemukan bahwa awal-mula masuknya VOC ke lingkungan Majapahit dan Mataram Islam dengan sistematika yang sama. Yakni kuasai pasar dan lobi-lobi politik kepada kerajaan agar diizinkannya kegiatan operasional VOC dengan keistimewaan. Alih-alih untuk modernisasi dan kemajuan kerjasama dan kesejahteraan rakyat dengan adanya berbagai pembangunan armada perang, Mereka malah menyabotase hak-hak rakyat dalam berekonomi hingga penjajahan-penjajahan dan perlawanan-perlawanan fisik sampai abad ke-19 lebih.

Adanya sumpah pemuda serta perjuangan-perjuangan pembebasan kemerdekaan Tanah Air di era 19-an merupakan bagian yang tidak terelakan dari perjuangan kedaulatan berekonomi dan mensukseskan kesejahteraan rakyat. Deklarasi kemerdekaan merupakan tonggak awal perubahan bangsa dan negara Indonesia dan sebagai babak baru penjajahan yakni penjajahan dalam berekonomi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pasca kemerdekaan merupakan bagian yang tidak terelakan dari dari awal penjajahan dari sistem ekonomi. Siapa yang paling cerdik dan tepat dalam berekonomi maka negara itulah yang maju.

Strategi meningkatkan Sinergitas menjadi senjata di pasca kemerdekaan dengan alih-alih pembangunan, maka dilakukanlah pemberian pinjaman yang berefek pada adanya sistem Bunga yang tak kunjung harum seperti namanya.

Sistem ekonomi Kapitalis menjalar di seluruh negeri hingga pada saat itu, bank yang tidak memakai sistem bunga dianggap aneh oleh para pelaku bisnis dan ekonomi, padahal Mereka paham pengaruh dan efeknya. Sudah bukan cerita bahwa uang kertas bagian dari peran dalam hal ini, dan sudah bukan rahasia siapa para pelakunya.

Perang baru dalam mensukseskan kedaulatan berekonomi kali ini adalah dengan memerangi akar dari masalah ekonomi itu sendiri.

Kalau Mau buka-bukaan, dari total 200 juta rekening bank yang terdaftar, sekitar 51,4% aset di kuasai oleh 0,04% jumlah rekening. Itu belum termasuk rekening ganda di dalamnya. Jika mau jujur, memang betul ketimpangan sosial menurun dari 0,39 menuju 0,37 dan 0,36 tetapi penurunannya bukan karena semakin baiknya golongan bawah, akan tetapi melemahnya golongan atas yang notabene usaha industri pertambangan dan sedikit meningkatnya golongan menengah serta bagian dari strategi penurunan batas minimum.

Ketika hadir dalam diskusi buka pendapat di Komisi XI bersama Menteri Bappenas dan para peneliti, Kami beserta tim mencoba menjelaskan bahwa kondisi kedaulatan ekonomi Indonesia tidak akan pernah tercapai apabila sistem yang digunakan tidak berkeadilan dan tidak memiliki potensial kebenaran, dan sistem yang dgunakan kali ini merupakan bagian dari menodai perjuangan para pendahulu Kita dalam mewujudkan kedaulatan berekonomi.

Di saat kredit Rakyat tidak berkah karena adanya Sistem Riba. Bukan lagi maju dalam usaha kecilnya tapi maju dalam pinjamannya saja. Di saat rakyat disajikan praktek jual-beli yang kurang sehat, yang hanya menguntungkan sebagian saja. Di saat masyarakat lebih menganggap sistem Konvensional sama saja dengan sistem Syariah, itu merupakan bagian dari tantangan. Di era globalisasi digital ini, merupakan bagian dari akselerasi perjuangan kedaulatan berekonomi atau bagian dari kemunduran terbesar sepanjang sejarah apabila Kita tertinggal.

So, Saya masih tetap berharap para Ekonom Muslim muda dan Ekonom Rabbani tetap berjuang dalam jalan-Nya. Karena setiap zaman ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya dan kali ini Kita masanya.

Selamat Hari Pahlawan Nasional Mari Kita Refleksikan Perjuangan Pahlawan dalam Pergerakan Kedaulatan Berekonomi

Salam Ekonom Rabbani, Bisa !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *