Metaverse diramal akan menjadi teknologi masa depan. Hal ini karena pandemi Covid-19 mendorong banyak orang beralih ke digital, termasuk merevolusi perekonomian, tempat kerja hingga pendidikan. Metaverse sendiri merupakan versi teranyar dari virtual reality (VR) tanpa komputer yang semakin digandrungi oleh masyarakat. Dengan perkembangan yang sangat pesat ini IBF Net Group, Dompet Dhuafa, dan KSEI LiSEnSi(Lisensi) UIN Jakarta berinisiasi menggelar webinar internasional dengan tema “Halal Ecosystem in Metaverse”.

Webinar “Halal Ecosystem in Metaverse” diikuti oleh sekitar 60 peserta dari kalangan profesional, mahasiswa, media, maupun akademisi dari berbagai lembaga dan universitas di Indonesia. Webinar ini membahas mengenai perkembangan ekonomi syariah di ekosistem digital dan metaverse, sharing session menjadi NFT creator dan figur publik di dunia digital, hingga tanya jawab mengenai web 3.0, blockchain, dan lain-lain.

Webinar internasional ini melibatkan para ahli dibidangnya yaitu Dr. Mohammed Obaidullah, Ph.D Chairman dan Founder dari IBF Net Group, Alfi Prakoso, visual content creator dan multimedia specialist, Dwi Nur’aini Ihsan, M.M, Secretary of Sharia Economics Program UIN Jakarta dan M. Atiatul Muqtadir sebagai figur publik.

Dalam persentasinya Chairman IBF Net Group, Dr. Mohammed Obaidullah menyampaikan bahwa IBF Net Group siap meramaikan perkembangan industri metaverse di Indonesia. Metaverse yang sedang dikembangkan, merupakan perluasan miniatur ekonomi Islam yang menjadi fokus dari IBF Net Group. “Proyek ini terdiri dari dua komponen: metaverse untuk pembelajaran dan market-place. Inisiasi ini, merupakan yang pertama dari jenis metaverse yang pernah ada. Hal ini karena, IBF Net Group akan menerapkan teknologi metaverse untuk menciptakan pasar yang sesuai dengan sistem keimanan dan kepercayaan masyarakat Islam,” ungkapnya. 

Dengan didukung sepenuhnya oleh Algorand Foundation, proyek IBF Net Group ini mempertimbangkan lingkungan budaya yang unik, peraturan, dan kebijakan yang ada di Asia Tenggara terkait industri metaverse. Dr. Mohammed Obaidullah jugamenyatakan bahwa proyek ini memiliki dua tujuan. “Kami memiliki tujuan untuk menciptakan tempat pembelajaran terbuka tentang meta serta menjadikannya sebagai wadah dalam memperoleh dan berbagi pengetahuan kapan saja, di mana saja. Selain itu, menciptakan pasar terbuka dan meta market-place sebagai sarana untuk membeli dan menjual dengan kualltas yang lebih tinggi secara informasi dan perlindungan. Secara keseluruhan, metaverse yang dikembangkan oleh IBF Net Group ini merupakan proyek inovatif dengan tujuan menciptakan metaverse yang sesuai dengan syariah. Proyek ini semakin memperluas gagasan miniatur ekonomi Islam di dunia web 3.0 dan menunjukkan potensi teknologi metaverse dalam menciptakan pasar yang lebih efisien dan manusiawi,”tambahnya. 

Ibu Dwi Nur’aini Ihsan, M.M selaku Secretary of Sharia Economics Program UIN Jakarta juga menekankan mengenai digitalisasi ekonomi syariah.  “Pertumbuhan ekonomi syariah akan bertumbuh cepat dengan adanya digitalisasi,” ungkapnya. Ibu Dwi mengatakan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia cukup berkembang pesat. “Perkembangan ini didukung oleh potensi-potensi yang ada di Indonesia seperti:  86% penduduk muslim, banyaknya rumah-rumah ibadah, lembaga keuangan bank dan non bank syariah yang semakin berkembang serta Industri halal baik dibidang pariwisata, kuliner hingga fashion halal,” tambahnya.  Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa peran mahasiwa dalam perkembangan ekosistem halal ini sangat besar, diantaranya sebagai garda terdepan dalam edukasi masyarakat terkait digitalisasi ekonomi syariah. 

Bapak Yudha Andilla, Manajer Retail Fundraising Dompet Dhuafa jugamenyampaikan betapa pentingnya peran generasi muda dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. “Harapannya dengan adanya seminar awal tahun ini semoga dapat memberikan pencerahan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa agar dapat memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana untuk merepresentasikan dan memproyeksikan diri secara baik dan benar kepada publik baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media digital,” ungkap bapak Yudha.

Acara yang juga dihadiri oleh komunitas web 3.0 dari Malaysia ini, diselenggarakan secara gratis. Menariknya, tidak hanya mendapatkan edukasi, peserta dapat berkontribusi secara langsung terhadap proyek sosial dari Dompet Dhuafa. “Dalam acara ini dilaksanakan penggalangan donasi melalui Dompet Dhuafa. Hasil donasi tersebut sepenuhnya disalurkan melalui “Program Kemanusiaan Bantu Korban Gempa Cianjur” yang pada saat November lalu dilanda musibah. Semoga kolaborasi kebaikan ini tidak hanya pada saat ini saja tapi dapat berkolaborasi di kesempatan berikutnya,” ujar bapak Yudha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *