Inthishar, seorang gadis yang bercita-cita menjadi seorang pionir perubahan. Terlahir dari keluarga sederhana membuatnya bertekad untuk mengubah perekonomian keluarga. Berbekal kecerdasan mengantarkannya menjadi mahasiswa berprestasi dengan beasiswa penuh.

Mentari pagi mulai memancarkan cahaya dengan sentuhan hangatanya. Kicauan burung mengiringi aktivitas pagi hari. Terlihat seorang gadis sedang asyik membaca koran tepat disamping ayahnya. Hembusan udara pagi menyibak lembaran koran tersebut. Minuman hangat menjadi pelengkap suasana.

”Ya ampun, berita di koran isinya banjir dimana-mana gara-gara sampah yang menumpuk“ kata Inthisahar heran

”Iya anakku, bapak juga sudah baca berita itu“ Ayah menjawab.

“Ngomong-ngomong tentang sampah, aku jadi punya ide untuk mendaur ulang sampah menjadi sebuah kerajinan. Lumayankan itu  bisa dijual. Kita ajak saja warga sekitar bersama-sama untuk mendaur ulang sampah. Selain menjaga lingkungan, dampak positif lainnya adalah memberikan pekerjaan bagi para pengangguran, ibu-ibu rumah tangga, bahkan para pemulung. Dan keuntungannya dapat kita salurkan untuk membangun fasilitas umum yang dibutuhkan warga lingkungan rumah kita serta menambah pemasukan keluarga kita.” Inthisar menjelaskan.

“ Memang anak ayah yang satu ini sangat cerdas dan memiliki hati nurani yang baik. Ayah setuju dengan ide kamu nak. Tapi ayah tidak ingin jika kamu melakukannya sekarang karena ayah takut kuliahmu akan terbengkalai. Dan kamu adalah harapan ayah untuk bisa mengubah kehidupan keluarga kita. “ kata ayah tegas.

“ Tapi ayah kalo kita tidak memulainya dari sekarang, kapan lagi? Bukannya menunda itu adalah hal yang tidak baik.? Kan ayah sendiri yang bilang bahwa ketika niat kita untuk kesejahteraan ummat maka Allah akan mengganti usaha kita dengan hasil yang maksimal. Dan Allah tidak akan pernah mengkhianati ummatnya. Kenapa harus takut? “ Inthisar bertanya dengan heran dan kecewa atas keputusan ayahnya.

“ Iya benar anakku, tapi tidak semudah yang kamu bayangkan. Kita butuh modal untuk membangun usaha tersebut. Sedangan ayah tidak memiliki cukup uang untuk mengembangkan usaha itu. Pokoknya kamu tidak boleh melakukannya, kamu fokus untuk kuliah saja! “ tutur ayah dengan nada tegas.

“ Iya ayah, apa boleh buat jika ridho ayah tidak ada, apapun usaha yang kulakukan pun tidak akan berhasil. “ jawab Inthisar kecewa.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 07.00, Inthisar segera bersiap-siap berangkat kuliah. Lalu ia berpamitan dengan kedua orang tuanya. Di sepanjang perjalanan, ia tidak  berhenti memikirkan ide cemerlang tersebut. Meskipun ayahnya menolak keras, Inthisar tetap kekeh dengan pendiriannya, ia yakin dengan keputusannya dan menujukkan kepada ayahnya bahwa apa yang ayahnya katakan adalah kesalahan besar. Karena prinsip dalam diri Inthisar ialah DO IT alias Doa, Ikhtiar, dan Tawakal.

Sesampainya di kampus ia menceritakan ide cemerlangnya kepada sahabat-sahabatnya. Sahabat-sahabatnya sangat mendukung dan ingin membantu mewujudkan cita-cita Intishar. Akhirnya, mereka membuat rencana dengan mengumpulkan uang tabungan masing-masing. Lalu membeli sampah plastik tersebut ke pemulung terdekat, mengolahnya dan menjualnya via online.

Setelah selesai kuliah, mereka bergegas mencari tukang pengempul sampah plastik di sekitar kampusnya. Setelah didapatkannya  mereka segera berkumpul di basecamp mereka. Selama perjalanan banyak sekali orang yang mencemooh mereka sebagai anak kuliah yang gagal, makanya jadi tukang sampah.

Cemoohan tersebut tidak membuat mereka gentar. Sesampainnya di basecamp, mereka segera mengerjakan sampah-sampah tersebut menjadi karya yang indah nan cantik. Lalu mereka mengupload dan menjualnya di online.

Beberapa bulan kemudian, ternyata peminat kerajinan tangan dari sampah tersebut meningkat bahkan mereka kewalahan melayani pesanan dari costumer. Akhirnya Inthishar dan teman-temannya bersosialisai kepada pak RT untuk memperdayakan ibu-ibu dan remaja di sekitar rumahnya. Dan respon pak RT sangat baik dan mendukung kegiatan tersebut.

Keesokan harinya pak RT, Inthisar, dan kawan-kawannya mengadakan penyuluhan dan pelatihan tentang usaha yang digelutinya. Mereka semua sangat antusias dengan pengembangan usaha tersebut. Bahkan keuntungan yang diperoleh Inthisar dan kawan-kawannya ia berikan kepada warga sebagai waqaf untuk pembangunan Koperasi simpan pinjam di daerahnya. Sehingga tidak ada lagi yang harus terlilit hutang dengan lintah darat.

Tiba-tiba orang tua Inthisar terkejut dengan aktivitas yang digeluti anaknya selama ini, ia tak jujur kepada keluarganya tentang uang yang ia miliki. Dan disitu Inthisar menjelaskan kepada orang tuanya.

“ Kenapa kamu selama ini tidak jujur sama ayah? Kenapa kamu jadi anak pembangkang sekarang? “ kata ayah emosi.

“ Maaf ayah bukannya Inthisar mau menjadi pembangkang tapi Inthisar mau mencoba melakukan apa yang Inthisar anggap itu baik. Toh ketakutan yang ayah rasakan tidak terjadi. Bisnis Inthishar sukses dan nilai Inthisar aman. Karena Inthisar melakukan apa yang ayah ajarkan untuk menghadirkan Allah disegala aktivitas kita. Jadi kita jangan pernah takut gagal , jadikan kegagalan itu menjadi ajang untuk bangkit dan memperbaiki diri lebih baik lagi. “ jawab Inthisar sedih.

Ayahnya pun memeluk Inthisar seraya berbisik “ ayah bangga sama kamu nak. Sungguh ayah hanya khawatir dengan kuliahmu karena kamu anak beasiswa. Karena ketika kamu  gagal maka kamu akan kehilangan beasiswa tersebut dan kamu tidak bisa kuliah lagi. Tapi kamu membuktikan kepada ayah bahwa apa yang ayah pikirkan itu adalah sebuah kesalahan. Ayah sungguh bangga dengan kamu, nak. “

“ Kakak juga bangga memiliki ayah seperti ayah karena ayah mengajarkan ke kakak banyak hal dan ini yang menjadikan Intishar seperti ini sekarang. Terima kasih ayah dan bunda. “ jawab Inthisar menangis sambil memeluk kedua orang tuanya.

Apapun yang terjadi di dunia ini jangan pernah takut dan menyerah atas apa yang telah Allah takdirkan kepada kita. Dan saling tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebikan sehingga Allah akan membalas kebaikan tersebut berkali kali lipat. Dan itulah janji allah swt. Don’t be afraid and give up to building an independent female civilization.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *